Indonesia, Investasi, dan Blackberry

Membaca judul di atas pasti membuat Anda bertanya-tanya, “Memangnya apa hubungan antara Indonesia, Blackberry, dan Investasi ?”
Anda pasti pernah mendengar istilah negara maju dan istilah negara berkembang (developed country) ?
Negara-negara tersebut dikategorikan sebagai negara maju atau negara berkembang berdasarkan nilai pendapatan per kapitanya. Menurut para pakar, negara Indonesia ini termasuk negara berkembang. Lucunya, Indonesia justru menjadi salah satu target market terbesar bagi produsen-produsen berbagai macam barang dari negara tetangga. Sebut saja produsen mobil seperti TOYOTA yang menjadikan Indonesia sebagai ‘hot market‘ karena Indonesia menyumbang angka ‘revenue’ yang besar bagi perusahaan mereka. Loh kok bisa ?
Bukannya Indonesia tergolong negara berkembang dan pendapatan per kapitanya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga ????? Namun, mengapa malah memberikan ‘revenue’ yang menggiurkan bagi produsen kendaraan sekelas TOYOTA. Aneh ?!?
Ciri-Cirinya : Jalan Sambil Menundukkan Kepala
Sepenglihatan saya, masyarakat Indonesia memiliki gengsi yang amat tinggi dan sifat yang amat konsumtif. Setiap ada barang tertentu, pasti orang ingin ikut-ikutan membeli karena tidak mau kalah dengan teman-temannya.
Coba sekarang Anda perhatikan, saat ini banyak orang yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Mereka bukan sedang ‘kepanasan’ atau merasa ‘minder’ karena merasa wajahnya kurang cantik atau kurang tampan. Mereka juga bukan sedang di ‘ospek ‘atau di ‘plonco’ oleh kakak kelasnya. Coba tebak kenapa saat ini banyak orang yang berjalan sambil menundukkan kepala ?!?
Mereka menundukkan kepala karena sedang asik ber “BBM” ria dengan rekan-rekannya yang berada nun jauh di sana. Apa itu BBM ? Kata orang, “Ga gaul ah, masa BBM aja nggak tau ?”
BBM atau BlackBerry Messenger adalah sebuah fasilitas chatting khusus antar pengguna BlackBerry. Gadget sederhana nan pamor yang akrab dengan nickname “BB” ini telah membuat sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi salah satu penyumbang ‘revenue’ terbesar bagi Research In Motion Ltd. (RIMM) , produsen BlackBerry asal Canada ini. Selain itu, dengan BlackBerry Anda juga dapat ber-facebook dan ber YM ria menggunakan fasilitas Facebook Mobile maupun Yahoo Messenger Mobile. Sebenarnya, saya sendiri bingung kenapa BlackBerry bisa sedemikian populernya dan membuat masyarakat Indonesia menjadi sangat konsumtif, termasuk saya juga menjadi korbannya =P hehehe… Bahkan, saking hebohnya Blackberry juga ada komunitas fanatiknya.
Padahal sebelumnya, berbagai produsen smartphone lain seperti NOKIA atau SONY ERICSSON juga menawarkan gadget-gadget lain yang tak kalah ‘high-tech’ nya. Menurut saya, dari segi desain dan fitur, BB itu biasa saja, keunggulannya hanya terletak pada fasilitas push mail dan BBM saja. Namun, gadget ini berhasil membuat orang berlomba-lomba memburunya dan rela meminjam uang kesana kemari demi mendapatkan sebuah ‘BB’. Malahan, ada yang demi mendapatkan status ‘gaul’, beberapa orang membeli produk tiruan ‘made in China’ yang terkenal dengan sebutan ‘BlueBerry’. Prinsipnya “Biar duit pas-pasan, yang penting GAUL!”
Lucunya lagi, saya iseng-iseng membuka website GOOGLE TRENDS. Bagi Anda yang belum tahu, GOOGLE TRENDS adalah bagian dari website google yang menunjukkan ‘Hal-hal terakhir yang sedang HOT ‘ di dunia. Saya coba ketikkan kata Blackberry pada search engine GOOGLE TRENDS, dan hasilnya bisa Anda lihat di bawah ini.
Terus terang, saya heran dan kaget melihatnya.. kata blackberry menjadi kata yang paling HOT berdasarkan data search engine GOOGLE, dan posisinya berada pada nomor 2 setelah CANADA (produsen BlackBerry), dan bisa Anda lihat bahwa selisihnya juga tidak terlampau jauh. Data tersebut adalah sebuah bukti otentik masyarakat kita yang begitu konsumtif. Menggelikan ? Memang!
Ironis sekali, negara yang ‘katanya’ pendapatan per kapitanya rendah, malah menjadi konsumen terbesar BlackBerry dan menempati posisi kedua setelah negara produsennya.
Lalu, apa hubungan antara Indonesia, Blackberry, dan Investasi ?
Pernahkah Anda bertanya, “Kalau begitu, saya tidak boleh bersikap konsumtif dan bersenang-senang dong ?” . Jawabannya, tentu saja boleh, tetapi ada strateginya sendiri!
Ada dua cashflow yang dihasilkan jika Anda membeli sebuah barang. Pertama, dikenal dengan cashflow negatif, dan yang kedua adalah cashflow positif. Bila Anda membeli barang-barang konsumtif seperti mobil, pakaian, BlackBerry, barang-barang elektronik, dan barang-barang konsumtif lainnya, tentunya akan menghasilkan cashflow negatif. Mengapa? Nilai dari barang-barang konsumtif itu akan terus menerus turun seiring dengan berjalannya waktu, dan membeli barang-barang tersebut akan memberikan arus kas negatif bagi Anda.
Lain halnya jika Anda membeli saham, reksadana, obligasi, unit link, atau berinvestasi pada instrumen terbaik di dunia (klik di sini) melalui seminar, buku, mentoring , dan sebagainya. Investasi tersebut akan memberikan passive income bagi Anda dan tentunya menghasilkan arus kas yang positif.
Nah, hasil dari investasi tersebut BOLEH Anda gunakan untuk membeli barang-barang konsumtif seperti BlackBerry. Jadi, semakin banyak passive income Anda, semakin banyak pula BlackBerry yang bisa Anda beli (Hehe saya bercanda, buat apa beli banyak-banyak.Maksud saya, makin banyak pula barang konsumtif yang bisa Anda beli!).
Dengan membeli barang konsumtif melalui PASSIVE INCOME, Anda menjadi seorang yang konsumtif tetapi tetap produktif! Jadi…Anda membeli barang konsumtif dari hasil passive income, bukan dari active income Anda. Jika passive income Anda belum mencukupi untuk membeli barang tersebut, maka bersabarlah dan terus belajar untuk meningkatkan jumlah passive income yang Anda miliki.
Melalui Paket Pembelajaran InvestorSibuk.com, Anda akan menemukan salah satu solusi investasi yang akan membuat Anda dapat menciptakan sumber PASSIVE INCOME Anda. Jadi… tunggu tanggal mainnya, dan undang teman-teman Anda untuk mengunjungi www.InvestorSibuk.com. Bagikan info ini kepada teman-teman Anda, ajak teman-teman Anda untuk mulai berinvestasi pada instrumen investasi terbaik di dunia, yakni DIRI SENDIRI.
Silahkan tuliskan komentar Anda pada kolom comments di bawah ini dan BUKTIKAN bahwa diri Anda adalah instrumen investasi yang terbaik di dunia.
Salam,
Ferdie Darmawan
Tulis comment Anda di bawah ini, jangan lupa share juga artikel ini via facebook melalui link SHARE THE WEALTH di atas, atau langganan melalui RSS feed!




Cukup menakjubkan memang bahwa konsumsi blackberry begitu besar di Indonesia no 2 lagi.
Yang patut kita perhatikan adalah fitur apa yang banyak digunakan pada blackberry tersebut.
Kalo sebatas phone dan sms ato cuman foto, video sama musik saja, yah tak banyak manfaat yang bisa didapatkan.
Tetapi kalo fitur2 yang berkaitan dengan penggunaan koneksi internet. Nah ini baru akan ada kemajuan yang luar biasa nantinya pada masyarakat indonesia.
Jangan asal investasi apalagi , karena gengsi, akhirnya bukan investasi tapi devestasi jadinya.
suatu pembelajaran yg sederhana,,,tapi dalam maknanya
Trims atas Infonya, dari Hasil artikel tsb itu menandakan bahwa negara kita bukan negara Berkembang tapi Negara yang diBodohi, karena jelas sekali menunjukan Bahwa tidak punya Inisiatif atau Ide yang bisa dikembangkan untuk, memenuhi kebutuhan Konsumtif Kita Sendiri. Jadi sejujurnya saya Malu dengan Kondisi spt ini, Negara kita Berkembang karena sifat Konsumtif yang Tinggi, bukan karena Produktifitas yang Tinggi. Trims atas Artikelnya.
Sampai hari ini saya masih tidak mau pakai Blackberry, saya tidak mau ikut-ikutan, saya belum melihat manfaat riilnya, dan saya belum melihat ada dana nganggur untuk beli blackberry he..he…
Soalnya saya cuman pakai telpon dan SMS, jadi feature blackberry belum bermanfaat bagi saya. Tapi kalau nanti sudah dapat passive income dari pembelajaran InvestorSibuk yang anda ajarkan, ya bolehlah beli Blackberry.
Setuju bahwa barang2 konsumtif harus dibiayai oleh passive income kita. Sebenarnya BB itu bagus kalau digunakan pada tempatnya, tetapi kalau hanya untuk ajang gaul ya payah deh … Ditunggu trik2 dari investor sibuk yang bisa buat beli BB
Memang kepingin pake BB. Tp utk saat ini blm sesuai harga dg manfaatnya, krn baru bisa nelpon n sms aja. Tp nanti nanti kl sdh banyak ilmu didapat yg membutuhkan n mengefisienkan dg pakai BB, kenapa tidak. Oleh karena itu , ditunggu secepatnya pembelajarannya ya. tq
Great banget Bung Ferdie,
Tadinya heran juga ya ……. Indonesia negara berkembang yg mayoritas pddk msih berada dalam garis kemiskinan malah menjadi target market Vendor2 besar dunia seperti Nokia, RIM, Honda, Toyota dll .
Tetapi itulah kondisi yg sebenarnya … pola hidup konsumtif dan JAIM (sering berganti-ganti seri / type handphone misalnya) sudah menjadi hal yang biasa …. dan ini menjadi lahan subur bagi para vendor untuk selalu melaunching produk mereka di Indonesia….. daripada negara asalnya . (Aneh bukan ????)
Nah semoga aja Bung Ferdie dapat segera mengubah pola pikir masyarakat Indonesia lewat Pembelajaran yang Bung Ferdie berikan baik itu melalui workshop / seminar , buku-buku dll.
Konsumtif tapi tetap Produktif ….Bravo Bung Ferdie !
semoga Sukses
Hahaha, lucu juga setelah membaca artikel satu ini.
Baru nyadar masyarakat Indonesia segitu konsumtifnya sama yang namanya Blackberry.
Tapi menurut saya Bung Ferdie, dengan konsumtifnya masyarakat Indonesia, pasar dan instrumen keuangan di Indonesia pun seharusnya menjadi ramai ya.
Salut deh buat Indonesia, mudah2an sifat konsumtifnya bisa terus memberi sentimen positif ke pasar uang di Indonesia khususnya pasar saha.
Salam,
kalau kita mau jujur memang kita selalu menjadi ‘Victim’ dari kebudayaan dan peradaban orang lain, salut buat kang ferdy, dg menyajikan tulisan2 seperti ini, mudah2an kita bisa saling mengingatkan.
Artikel ini sepertinya kena banget dengan saya, karena dua hal pokoknya yaitu blackberry dan investasi. BB itu bagi saya bisa menjadi investasi karena BB itu bisa dipakai untuk mengoperasikan OLT. Tapi sampai sekarang saya belum punya BB. Pingin sih punya. Dan maunya beli BB ya pakai hasil trading. Dan ini memicu saya untuk dapat hasil (cuan) lebih banyak dari trading. Mungkinkah bung Fredie bisa membantu denga InvestorSibuk-nya?
Salam buat fredie….
Saya juga termasuk orang yang kaget ketika ternyata pemakain hp BB di negara kita rangking ke dua walaupun negara kita termasuk negara berkembang. Saya tidak ikut mengatakan bahwa orang Indonesia sok merasa bangga dan inginnya suka dipuji dengan memakai gadget BB,atau gadget yang lain. Masyarakat kita sebenarnya kurang pemahaman akan pentingnya investasi yang bersifat cashflow positif.
Oleh karena itu saya merasa bangga dan senang karena ada seorang “Freie” yang mau berbagi pengalaman tentang investasi Melalui Paket Pembelajaran InvestorSibuk.com, sebagai ide menciptakan sumber PASSIVE INCOME.
Semoga peluncuran website Investor Sibuk.com dapat menggugah dan mengubah pola pikir masyarakat kita. Amien…
Semoga sukses…
Saya pernah baca postingan nya ER di J tader
bagaimana BB, merubah prilaku, di tulisan anda yang akan saya
coba untuk mempraktekkan nya , saya akan coba
membeli barang komsumtip dengan pasif income
Tapi bisa ngak ya?
Mau Kaya dimasa Muda apalagi dimasa tua?
Satu kalimat saja : “Dahulukan Investasi dari pada Konsumsi”
Cara Investasi? Hayu Urang belajar sasarengan..
Mangga..
Salam Sukses,
Roel’s
Sangat masuk akal sekali Pak Ferdie, terimakasih ya Pak, pembelajaran awal ini dapat Anda ajarkan secara sederhana dan mudah sekali untuk dipahami. Ayo berhemat dulu supaya duitnya bisa diinvestasikan… tapi jangan jadi orang kikir ya!!!hahaha GBU
jum’at kemarin saya baca berita di harian lokal, ada data yang menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-6 pengguna telepon seluler di dunia. sayangnya, prestasi ini tidak dibarengi dengan tingkat kemelekan teknologi yang hanya mencapai 20 % dari total penduduk. hal ini menggambarkan bahwa faktor tren lebih menjadi alasan bagi mayoritas orang Indonesia memilih produk teknologi, bukan karena mereka memiliki kemampuan yang memadai untuk mengakses konten teknologi itu sendiri.
negara kita ini kan mempunyai predikat sebagai pekerja keras bukan pemikir keras. sepertinya gaya hidup ini peninggalan jaman kerajaan dulu yah…, sejak jaman majapahit orang-orangnya sudah jadi kawulo menghormat pada kerajaan, sekarang majapahit dan orang 2 nya sudah tidak ada tapi wong-wong kawulonya masih ada. sampai datang jaman penjajahan pun sama dulu kita dijajah belanda dan disuruh kerja paksa kalo ga salah rodi namanya , dan di jajah jepang romusha namanya..dan tetep aja mau ngawulo..untuk apa?dan apa tujuanya? ya untuk membuat insfrastruktur , bikin jalan raya ,kebon teh ,benteng-benteng sejarah dan prasarana lainya. anehnya..setelah insfrastruktur sarana dan prasarana sudah lengkap kita tidak sadar bahwa kita masih juga dijajah bukan menikmatinya tentunya dengan kedok yang berbeda…dulu negara kita dijajah suruh kerja keras banting tulang tanpa henti demi kepentingan kompeni dan nippon,anehnya sekarang masih disuruh kerja keras banting tulang untuk bayar cicilan Yamaha,honda,suzuki dan hsbc,citibank dll..dan yang ga kalah hebohnya “banting tulang untuk beli blackberry”..menyedihkan untuk kepentingan siapa?
intinya yang dapat saya tangkap adalah “seimbang”
yaitu arus pemasukan ada.. dan arus keluaran juga ada..
termasuk baik jika modal masuk = modal keluar alias impas alias 0 daripada modal masuk modal keluar
salam ^^
yup, seperti kata pepatah kita bekerja bukan untuk uang tapi uang bekerja untuk kita
Betul sekali pendapat Anda…
Mungkin Sudah menjadi Trend Indonesia setiap ada hal baru..
Selalu mementing Gengsinya dulu….
sebab Gengsi lebih mahal harganya dibanding dengan nyawa manusia..
hehehe..
Memang sungguh membahayakan , memang benar 99% warga indonesi
sangat konsumtif,beda-beda tipislah dengan Amerika degan gaya
hidupnya, kalau dikasih uang 1 millyar yang ada dipikiran mereka
mau dibelikan apa uangnya? Bukannya berpikir bagaimana agar uang
ini bertambah,dan haslnya, digulunng lalu di investasikan Baru!!
hasil investasi itu untuk membeli barang konsumtif tersebut.seperti
yang dilakukan Bp.Perdi Darmawan Bukan Begitu Bapak, Yap betul,
(INVESTASI_ INVESTASI_ INVESTASI).BUKan haya BB< HP juga sama
jangankan bapak-Bapak *BUDAK SAKOLA GE MARAKE TI BUDAK SD SAMPE
KAKE-KAKE SING KIRINING MARAKE HP*
HE..hee.okelah kalo begitu sampai jumpa
salam Sukses,
AhmadMiftah
Ferdie, saya sih punya pendapat tersendiri tentang barang-barang yang digolongkan sebagai cashflow positive dan cashflow negative.
Ketika blackberry atau barang konsumtif lainnya (namun tertentu…tidak semua barang konsumtif) digunakan sedemikian rupa, maka kelompok barang tersebut bisa digolongkan sebagai barang yang memberikan cashflow positive. Itu jika kita menggunakannya sebagai aset investasi. Kok bisa? Blackberry adalah contoh yang kita pakai di artikel ini, benda tersebut bisa digunakan untuk ber-internet ria dan chatting-ria. Nah sekarang coba gunakan internet tersebut untuk memantau harga saham misal, dan fasilitas chat nya untuk chatting dengan rekan bisnis. Itu akan sangat berguna dan bukan tidak mungkin untuk menciptakan cashflow positive alias kas masuk
Sebaliknya, ketika pembelian saham, obligasi, dan marketable securities lainnya dilakukan bukan secara analisis namun secara spekulan (atau bisa juga disebut membeli bukan sebagai investor namun sebagai gambler), maka itu semua bukan tidak mungkin akan memberikan Anda cashflow negative (malah merugi).
Begitulah sedikit pendapat dari saya
Makanya saya sekarang juga melakukan investasi pada ilmu Internet Marketing yang sebelumnya saya adalah awam.
Mengenai investasi pada pembelian barang2 yang mengakibatkan cashflow negatif, saya kira tidak mutlak selalu demikian. Mereka2 berinvestasi membeli mobil mewah misalnya adalah demi untuk menunjang gengsinya dalam berbisnis, atau tujuan lainnya. Yang jelas bila membeli mobil mewah hanya untuk sok, hanya untuk pamer, ya jelas itu adalah cashflow negatif. Apa lagi pembeliannya dg dipaksakan misalnya dengan kredit. Wah.. saya memang jadi bingung juga ya mengenai kriteria negara berkembang dan negara maju. Apa pendapat Bung Ferdie?